Thursday, October 17, 2013

Sepenggal Kenangan Hidupku


Sepenggal Kenangan Hidupku
            Dia cerewet dan suka menceritakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin ku ketahui. Ya... dia lah lelaki yang menjadi sepenggal kenangan hidupku. Pada mulanya aku hanya sekedar mendengarkan ocehan-ocehannya ditelpon setiap malam. Dia menceritakan satu per satu kisah hidupnya dan terkadang membuatku bosan dan hanya mendengarkan sekedarnya. Tapi ternyata setelah sekian lama cerita yang hanya sekedarnya ku dengarkan, justru menempel erat diotakku. Dan seolah aku mengenalinya seperti aku mengenali diriku sendiri. Cerita dia dan keluarganya, dia dan teman-temannya, bahkan dia dan mantan-mantan pacarnya terus ada di ingatanku. Entah faktor otakku yang mudah mengingat atau Tuhan sengaja mengirimkan dia agar menjadikan aku lebih dewasa.  
            Dia tampan (walaupun sedikit pendek), bersuara indah, multitalented, perhatian, cemburuan, dan terkadang tempramental. Tapi dibalik itu semua, aku menyayanginya dengan apa adanya dirinya, dengan kesederhanaannya dan dengan semua kekurangannya. Selama 1 setengah tahun aku tertawa dan menangis bersama dengannya. Mungkin itu yang takkan pernah bisa terlupakan. Kasih sayangnya, perhatiannya, cemburunya, nyanyiannya, dan semua tentangnya Always in my head and my heart.
            Sejak awal aku tau aku melakukan kesalahan. Kesalahan yang mungkin takkan termaafkan. “Main-main” itu yang terlintas dipikiranku sejak awal. Di dalam hatiku pun aku berjanji tak akan pernah benar-benar menyayanginya. Tapi nyatanya ?? Tuhan memberikan teguran atas apa yang aku lakukan. “Sayang” .. ya.. akhirnya aku tenggelam dalam perasaanku. Aku benar-benar sayang dan sulit untuk melepasnya. Aku tak bisa mengakhiri apa yang harusnya ku akhiri. Saat itu berkali-kali aku mencoba melepas semuanya, namun tak pernah bisa.
            Sampai suatu saat aku sadar. Akan sangat lebih sakit jika dilanjutkan. Siap tidak siap, aku harus kehilangan dia. Dia yang 1 setengah tahun menemani tangis dan tawaku. Dia yang mendengarkan keluh dan kesahku. Dan akhirnya harus kulepaskan.
            3 september, hari itu takkan terlupakan. Aku akhirnya menceritakan yang sebenarnya kepadanya. Dan hari itu juga, terakhir kalinya aku mendengar tawa dan tangisnya. Sakit..sangat sakit. Apalagi jika melihat caci makinya untukku di dunia maya. Terus terbayang rasa sakit yang akan dia hadapi. Dan pasti lebih sakit dari padaku. Bahkan tak terpikirkan lagi rasa sakitku harus kehilangannya, yang kupikirkan hanya perasaannya. Tuhan.. seandainya waktu bisa diulang. Mungkin aku akan memilih tak mengenalnya dan membiarkan dia bahagia dengan orang lain.
            Bersamanya, memberi banyak pelajaran untukku. Salah satunya adalah “disaat kamu tersakiti, janganlah hanya mengingat keburukan orang tersebut, melaikan ingatlah pula kebaikannya”. Sepenggal cerita ini, hanyalah sedikit dari banyak kenangan yang pernah ada bersamanya. Dan hanya Tuhan, dia, dan aku yang mengetahui semua kenangan-kenangan itu. Kenangan-kenangan itu selamanya akan tersimpan di dalam hatiku. Menjadi sebuah pelajaran, pendewasaan, dan juga pengalaman yang takkan tergantikan.
            Mulai saat ini aku mencoba mencintai diriku sendiri dan memulai hidupku yang sederhana bersama orang-orang yang mencintaiku dengan apa adanya diriku. Aku.. selamanya akan terus berdoa agar kebahagiaan terus menghampiri dan terus menyertainya. Walaupun terkadang sampai saat ini aku masih iri dengan perempuan-perempuan yang bisa mendampinginya. :(  Hmm.. Suatu saat dia pasti mengerti atas semua yang aku lakukan. Kini aku sadar, lebih baik pahit namun pasti, daripada manis dalam khayalan.
            Satu hal yang terindah untukku adalah kau pernah ada di dalam hidupku.